IKUTI LOMBA FOTO "GURU BAGIMU NEGERI" SEGERA DAFTAR, GRATIS.

PASAR EKSPOR, KELAS PREMIUM

STRATEGIC MARKETING

SELASAR-SELASAR di 29th Trade Expo Indonesia (TEI) 2014 itu memang tak terlampau ra mai. Padahal, kain-kain batik, furnitur-furnitur apik, tas kulit, juga aneka kerajinan tangan yang dipajang mayoritas berkualitas premium. Tak ada keriuhan layaknya pameran kerajinan tangan lazimnya.

Namun, kedatangan laki-laki dan perempuan, mayoritas berjas, sebagian bersorban dan berbicara dengan aneka bahasa, ke tiap-tiap stan sesungguhnya merupakan kabar gembira bagi para pengusaha yang berpameran di sana.

Di pameran dagang yang digelar Kementerian Perdagangan dengan co organizer PT JIExpo itu, 8 hingga 12 Oktober, orientasi memang diarahkan pada pasar ekspor. Transaksi yang disasar business to business. Pengunjung umum diperkenankan datang mulai pukul 16.00 hingga 20.00 pada empat hari pertama dan sepanjang hari pada penutupan, tetapi yang ditunggu-tunggu peserta tentu buyerbuyer asing.

Kartu nama dipertukarkan, katalog dan daftar harga kemudian dikirimkan lewat e-mail, dan jalan menuju pasar ekspor pun terbentang. Sebagian pengusaha tengah merintis, tapi ada juga peserta TEI yang tengah memperluas pasar ekspornya. Geliat usaha mereka mempercepat putaran roda ekspor nonmigas negeri ini yang memang mestinya jadi andalan utama.

Towards green business yang menjadi tema pameran dagang internasional terbesar di Indonesia itu tecermin pada bahan baku, proses produksi, hingga pengemasan peserta pameran.

Namun, ekonomi hijau sesungguhnya juga dapat dilihat dari kerja keras meningkatkan nilai tambah sumber daya alam negeri ini serta pilihan untuk memberdayakan sekelilingnya.

Gerakan hijau juga tecermin ketika mereka dengan bangga memperkenalkan kekayaan negeri, yang mereka olah apik dan kirimkan ke berbagai negeri.Ekonomi lokal tergenjot dan kesejahteraan masyarakat terdongkrak.

Sedikitnya 100 negara terdaftar hadir dalam TEI, dengan jumlah pengunjung diharapkan menembus 14 ribu orang. Mereka berasal dari Australia, Amerika Serikat (AS), Jepang, Finlandia, Timor Leste, Pakistan, serta negeri-negeri Timur Tengah. Namun, buyer prima dona pada TEI kali ini ialah Nigeria, India, Malaysia, Arab Saudi, Bangladesh, serta Persatuan Emirat Arab.Komoditas yang diproyeksikan jadi juara ialah tekstil, dekorasi rumah, produk pertanian, fesyen, aksesori, serta produk furnitur lainnya.Dari laut ke kamar mandi Butuh menunggu 15 menit buat berbincang dengan Fernanda Reza, 43 sang pemilik Promosia. Para buyer asal Timur Tengah, Korea, Jepang, hingga Amerika Serikat silih berganti mengajaknya berdiskusi. Salah satunya dari Big Buy Furniture yang berkantor pusat di Amerika Serikat dan Singapura.

Pengusaha asal Surabaya itu bahkan sempat pamit buat menemui buyer yang ingin memberikan dana tanda jadi. Jajaran tutup kloset duduk, yang dipamerkan Reza yang jadi pemicunya.

Reza memajang aneka warna tutup toilet duduk berbahan campuran akrilik. Wujudnya tidak cuma tampak kukuh, tapi juga mencuri perhatian dengan taburan pasir pantai sebagai latarnya serta aneka cangkang hewan laut yang ditata apik di atasnya. Ada pula wastafel, tempat sabun, hingga ganjal pintu berpenampilan senada.

“Indonesia kaya kekayaan laut, bahan baku ini saya peroleh dari kawasan pantai di kawasan barat Indonesia, padahal pantai kita begitu banyak dan kaya. Ini upaya saya untuk meningkatkan nilai tambah kekayaan sumber daya alam kita,“ kata Reza ketika akhirnya bisa diajak berbincang di stannya, pada hari pertama TEI, Rabu (8/10).

Bisnis hijau

Konsep bisnis hijau yang diterapkan Reza bukan cuma diterapkan dalam proses produksi, melainkan juga menjadi komponen utama roda bisnisnya.Ia mengolah sumber daya alam, sebagian besar telah berupa limbah, cangkang-cangkang kerang, dan aneka benda laut lainnya, untuk dijadikan benda bernilai tambah tinggi.

Pendekatan hijau, yang salah satunya berkonsep pemberdayaan masyarakat lokal, juga dilakukan Reza dengan melatih para nelayan yang semula hanya memasok bahan mentah. Setelah ia bina, kini mereka mengirim aneka benda laut kering yang telah diolah sehingga lebih siap pakai.

Bahkan, Reza menyatakan ingin menjalin kerja sama dengan para pe bisnis yang berminat menekuni bisnis serupa. Jika ia tak lagi jadi pemain solo di bisnis aksesori kamar mandi, yang katanya masih sangat sepi itu, Reza bisa konsentrasi menggarap pasar. Sementara, proses produksi bisa dilakukan pengusaha-pengusaha lain.

Mereka, diharapkan Reza, masyarakat yang berdekatan dengan sumber daya laut yang kaya dan indah, mengolah alamnya menjadi aneka peranti kamar mandi dan Reza yang akan mengirimnya ke seluruh dunia.“Di Indonesia, bisa dibilang belum ada pemain lain. Di Bali dan Jepara, pernah ada yang membuat, tapi tak bertahan. Mungkin karena market-nya tak tertembus.“

Sekarang saja, tiga hingga empat kontainer produk Promosia dikirim ke berbagai belahan dunia. Telah 52 negara menjadi sasaran ekspornya, tetapi kini negeri-negeri Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Tiongkok yang jadi sasaran utama.“Salah satu pasar utama saya sekarang, Tiongkok malah,“ kata Reza yang memulai bisnisnya pada 1999.

Bukan tanpa alasan Reza menekankan pencapaiannya di Tiongkok karena berkat kepandaian meniru pabrikan negeri itu pulalah, pada 2005 bisnisnya terguncang hebat. “Bayangkan, harga mereka, hanya 20% dari harga saya, landed price Eropa,“ kata Reza.

Ia bahkan sempat ingin menutup bisnisnya. Namun, lagi-lagi, karena alam Indonesia yang kaya, kekayaan laut yang tak terpakai begitu melimpah, Reza memutuskan bertahan.
Ia kemudian konsisten di pasar premium. Keputusan itu membuat Promosia meninggalkan para penirunya, di Tiongkok, di belakang.

Tantangan berat di tahun keenam yang berujung pada keputusannya menggarap pasar kelas atas berlanjut dengan peluang lainnya. Para buyernya kemudian meminta Reza menyediakan peranti furnitur kamar mandi.

Maka, bermitra dengan kawannya yang biasa menggarap perabotan kayu, sejak 2012, Reza kini juga menyuplai furnitur berbahan kayu jati. Kendati begitu, sebanyak 67% komposisi ekspornya masih didominasi aksesori kamar mandi. 

Diganjar Primaniyarta

Kerja kerasnya, yang disebut Reza juga termasuk periode lokasi produksinya berbau tak sedap karena ia masih mengolah bahan baku sendiri, bukan cuma berbuah omzet. Ia juga diganjar Primaniyarta pada 2005 pada kategori UKM pelopor ekspor, 2010 sebagai UKM eksportir, dan pada 2013 menempati kategori superior potential exporter.Primaniyarta merupakan penghargaan yang diberikan pada pengusaha berprestasi di bidang ekspor dan menjadi model bagi eksportir lain. Primaniyarta rutin digelar tahunan oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan.
Penghargaan itu tentu berkorelasi dengan pasar ekspor Reza yang mencapai 95%. Kuncinya, selain TEI yang rutin ia ikuti setiap tahun sejak 2001, ia juga berkeliling hingga 14 pameran bisnis di berbagai negara.

Sebanyak 80% produknya bernuansa kekayaan alam pantai, sisanya bermotif bunga, hingga benda-benda fungsional yang ketika ditata dengan baik, ternyata indah, salah satunya silet. Tutup kloset yang dihargai Rp1,5 juta untuk pasar Indonesia itu menjadi favorit buyer-nya.
“Kami bisa bilang ini produk handmade, keterlibatan mesin hanya saat memoles saja,“ kata Reza. Kekayaan laut Indonesia, keterampilan tangan masyarakatnya, kini menghiasi kamarkamar mandi di belahan negeri. (M-3)

MI/11 Oktober 2014/Halaman 19

Share this article :

DAPATKAN SEGERA BUKU JURNALISME KEBERAGAMAN

Jadwal Training/Pelatihan lainnya