MEDIA INDONESIA PUBLISHING SERVICE

HUMAS WAJIB MEMAHAMI MEDIA SOSIAL

Klik Gallery Foto, untuk langsung ke Gallery Foto kegiatan



Kecepatan dan semakin luasnya daya jangkau informasi di media sosial bila tak segera diatasi bisa menimbulkan kekisruhan.

PROFESI kehumasan pada instansi peme rintahan saat ini mut lak dituntut untuk menguasai seluk-beluk media sosial (medsos) yang selalu ramai menjadi perbincangan di tengah-tengah masyarakat.Pasalnya, tak jarang medsos malah memberikan informasi yang simpang-siur.

Demikian kesimpulan ter sebut disampaikan Deputi V Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Gatot Dewa Broto ketika menjadi salah satu pembicara dalam seminar nasional dan Munas Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) 2014, di Jakarta, kemarin.

Gatot menyampaikan kecepatan dan semakin luasnya daya jangkau informasi di medsos, bila tidak segera diata si, niscaya dapat menimbulkan kekisruhan yang justru dapat berdampak negatif pada suatu institusi, program, atau tokoh yang diinformasikan.

“Medsos bisa sangat mengintimidasi. Karena itu, kalau humas di institusi atau pemerintah tidak perform, justru itu akan jadi masalah,“ ungkap Gatot yang juga dikenal publik sebagai praktisi kehumasan tersebut.

Untuk itu, di masa depan, menurut Gatot, praktisi kehumahasan wajib memperkuat kemampuan mereka di lapangan. Pasalnya tantangan ke depan semakin berat. Isu-isu kecil yang ada di medsos pun, bila tidak segera diantisipasi dengan cepat, akan membesar dan bisa menjadi masalah bagi lingkungan pemerintah.

Di sisi lain, belakangan ini jumlah media daring, cetak, dan televisi juga semakin bertambah banyak. Dengan begitu, informasi yang diterima masyarakat pun semakin beragam sehingga bisa membuat masyarakat bingung.

“Pada situasi seperti ini, humas dituntut bertindak cepat dan tepat untuk menyampaikan informasi yang benar kepada publik. Profesi humas harus bisa menjadi garda terdepan terkait dengan hal ini.“

Karena itulah, Gatot tidak setuju jika di pemerintahan humas dicap jadi tempat `buangan' bagi pegawai yang dianggap tidak berprestasi.

Ia mencontohkan di Amerika Serikat, profesi humas diisi orang-orang yang sangat berkompeten. “Orang-orang itu selalu diajak bicara setiap proses pengambilan kebijakan di pemerintahan / perusahaan dari awal sampai akhir,“ pungkas Gatot.




Naikkan citra Pendapat senada juga disampaikan Pemimpin Redaksi Metro TV Putra Nababan yang hadir sebagai pembicara kedua. “Di Amerika Serikat, spoke person justru ialah para VIP. Mereka turut merancang kebijakan dari first to end,“ imbuhnya.

Pada kesempatan yang serupa, CEO of General Electric Handry Satriago mengatakan dunia informasi kini telah berubah. Saat ini dunia seperti berada sangat dekat dan tanpa sekat. Dengan demikian, informasi kejadian di suatu negara dapat segera tersebar ke negara lain.

Untuk itu, mewakili sektor swasta, Handry mengatakan perusahaan swasta mutlak perlu memiliki tenaga kehumasan yang tangguh. Pasalnya, citra perusahaan yang bersih serta-merta akan dapat meningkatkan brand perusahaan itu sendiri. (H-2) cornel@mediaindonesia.com

Berita MI/16/12/2014/Halaman 14
Foto Dokumen MI. Komunitas

Next to Gallery FOTO
Gabung bersama MI.Komunitas untuk mengikuti berbagai pelatihan dan anda akan mendapatkan bonus berlangganan Koran Media Indonesia selama 3 bulan (gratis) Lihat jadwal pelatihannya DISINI
Share this article :

BUKU JURNALISME KEBERAGAMAN

Jadwal Training/Pelatihan lainnya