MEDIA INDONESIA PUBLISHING

SISTEM MANAJEMEN MUTU

Pokok Bahasan:
  • Update of ISO 9001:2015
  • Quality for Branding Strategy
  • KPI Based Quality Management
  • Return On Quality Investment
  • Web Based QMS ISO 9001:2015
  • New Paradigm of Quality Management
  • Practical Quality Improvement - PQI Model
  • Building Core Culture by QCC - ASTRA Model
  • The Best Model QCC Presentation (Top Five) 
Pelaksanaan, 09-10 November 2017
.
..
BULAN MUTU NASIONAL 2017
Pada acara Bulan Mutu Nasional 2010, Boediono, yang waktu itu Wakil Presiden RI, mengatakan dalam sambutannya, “Ke depan kompetisi bukan lagipada harga, tetapipada mutu”. Ia mengingatkan agar industri di Tanah Air menyiapkan din untuk berkompetisi secara cerdas dalam rangka meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional. Menurutnya, mutu akan lebih mungkin ditegakan bila karyawan bekerja secara cerdas, daripada hanya mengandalkan kerja keras. Karena itu, katanya, gerakan kesadaran mutu ke depan harus lebih ditekankan pada pembangunan kecerdasan berusaha dan bekerja.

Apa yang disampaikan dalam pidato Wapres 7 tahun silam itu sangat tepat dan tetap relevan sampai han mi. LJntuk menegakan mutu mutlak dibutuhkan kecerdasan dan kompetensi (knowledge, skill, attitude). Karena mengelola mutu, bukan berarti hanya menetapkan standar, dan mendokumentasikannya menjadi Standard Operating Procedure (SOP) untuk keperluan sertifikasi semata. Detelah itu, dokumen disimpan dalam laci, atau dimanfaatkan tapi secara minimal, tanpa semangat inovasi layaknya robot bekerja, tanpa menggunakan akal budi.

Dalam konteks biznis, mutu adalah nilai. Mengelola mutu berarti mempertahankan dan/atau memperbesar daya tambah nilai. Menambah nilai adalah tujuan setiap organisasi usaha. Agar sistem kelola mutu-SKM, (Quality Management System-QMS) memiliki daya tambah nilai yang besar, maka sistem pengelolaannya harus dibangun di atas falsafah dan konsep yang benar, strategi dan metodologi yang tepat, tujuan yang jelas dan terukur, serta komitmen untuk menjalankan sistem secara konsisten, dengan semangat inovasi berkelanjutan.

Sistem kelola mutu model apapun, entah itu ISO, SPMI, TQM dsb, dapat di sederhanakan menjadi 4 tahapan proses: (1) tahap rancang bangun, (2) tahap sosialisasi dan internalisasi, (3) tahap implementasi, dan (4) tahap evaluasi. Setiap tahap membutuhkan kecerdasan dan kompetensi kerja tertentu, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kecerdasan dan kompetensi kerja dalam konteks sistem kelola mutu artinya dimilikinya pengetahuan, kemampuan, sikap kerja yang baik dan kewenangan yang jelas oleh para pemangku kepentingan dalam organisasi (groups of internal stakeholders). Pemangku kepentingan dalam perusahaan secara garis besar dapat dibagi menjadi 5 (lima): Pimpinan tertinggi perusahaan (termasuk owner), pimpinan fungsional, wakil manajemen, auditor internal, dan karyawan. Berdasarkan konsep Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), kompetensi terdiri dan 4 dimensi: pengetahuan (knowledge), kemampuan kerja (work skill), sikap kerja (workattitude) dan kewenangan (job authority). 

Pada tahap merancang bangun sistem kelola mutu (work on the system), dibutuhkan pengetahuan tentang falsafah dan konsep mutu, pemahaman model manajemen mutu yang akan dibangun, pengetahuan tentang perusahaan termasuk pemahaman mengenai proses bisnisnya, pengetahuan tentang profil para pemangku kepentingan (internal & external), serta pengetahuan tentang ilmu manajemen dan kesisteman. Siapa pemangku kepentingan pada tahap rancang bangun SKM? Pimpinan tertinggi perusahaan dan para pimpinan fungsional. Pada tahap sosialisasi dan internalisasi, dibutuhkn pengetahuan tentang pelatihan berbasis kompetensi, kemampuan menyusun program pelatihan, memilih metode internalisasi secara tepat agar efektif.

Siapa pemangku kepentingan pada tahap sosialisasi dan internalisasi?
Pimpinan unit pelatihan bersama dengan seluruh jajaran pimpinan funsional. Pada tahap implementasi, dibutuhkan kompetensi kerja, yakni kemampuan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang telah ditetapkan dalam konfigurasi sistem kelola mutu (work in the system).

Siapa pemangku kepentingan pada tahap implementasi?
Seluruh pimpinan dan karayawan. Pada tahap evaluasi, dibutuhkan audit skill, assessment skill dan analytical skill.
Siapa pemangku kepentingan pada tahap evaluasi?
Tim audit internal, wakil manajemen dan seluruh pimpinan fungsional, agar mampu melakukan evaluasi (review of the system). Sementara improvenet skill, dibutuhkan oleh seluruh pimpinan dan karyawan agar semua dapat ikut berpartisipasi dalam perbaikan (improvement of the system). Idealnya SKM dibangun dan di implementasikan dengan pola sebagaimana dijelaskan di atas.
Bagaimana realitanya di Indonesia?
Mayoritas tidak melakukannya. Orientasi kebanyakan perusahaan yang menjalankan sistem manajemen mutu, misalnya model ISO 9001 untuk organisasi apa saja, atau SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal untuk bidang pendidikan tinggi), masih sebatas untuk memperoleh sertifikasi atau memenuhi persyaratan akreditasi. Sertifikasi, akreditasi bukan tidak perlu. Tetap perlu, tetapi tidak lebih perlu dan revitalisasi. Mampu memperoleh sertifikasi tidak otomatis mampu melakukan revitalisasi. Tetapi dengan membangun dan menjalankan Sistem Kelola Mutu secara tepat, benar dan efektif, sampai terbentuk budaya mutu (quality culture) yang kokoh, maka revitalisasi dan sertifikasi pasti akan terjadi.  Untuk mengetahui apakah ada revitalisasi dalam suatu organisasi, khususnya yang sudah menerapkan SKM, tidak terlalu sulit. Cukup melihat pelaksanaan SKM pada tahap implementasi dan evaluasi.
Apakah ada dinamika di sana?
Caranya mudah, lihat program kerja SKM.
Apakah ada program audit, kegiatan audit dan laporanya?
Apakah ada agenda tinjauan manajemen (management review), pelaksanaan dan laporanya?
Apakah ada program perbaikan, pelaksanaan dan laporannya?
Mengapa SKM hams dinamis. Logikanya sederhana; bahwa di dunia mi tidak ada yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Berdasarkan falsafah itu, maka standar mutu, sistem kelola mutu dan standar kompetensi kerja yang dibutuhkan untuk mengelola mutu,juga mengalami perubahan, karena itu perlu terus disesuaikan sejalan dengan progresifitas kinerja yang menjadi ambisi setiap organisasi yang berorientasi pada pertumbuhan nilai dalam lingkungan yang terus berubah . *(Membangun Kecerdasan Berusaha dan Bekerja)

Gabung bersama MI.Komunitas untuk mengikuti berbagai pelatihan dan anda akan mendapatkan bonus berlangganan Koran Media Indonesia selama 3 bulan (gratis) Lihat jadwal pelatihannya DISINI 
Share this article :

BUKU JURNALISME KEBERAGAMAN

Jadwal Training/Pelatihan lainnya